Friday, May 22, 2020

Ustadz Musa, Guru Ngaji Penderita Polio yang Tidak Digaji

Musa

Sore hari yang cerah. Serombongan anak-anak mendatangi rumah Ustadz Musa untuk belajar ngaji. Sang ustadz sudah siap menyambut murid-muridnya ini. Setelah anak-anak ini masuk ke rumahnya dan duduk dengan rapi, suara anak-anak yang sedang mengaji Al-Quran pun terdengar.

Di tengah-tengah kegiatannya mengajar ngaji anak-anak tersebut, Ustadz Musa sesekali beranjak dari duduknya menuju depan rumah untuk melayani para pengendara motor yang ingin membeli bensin. Di depan rumahnya inilah, terdapat sebuah kios bensin yang menjadi tumpuan penghasilannya.

Nama lengkapnya adalah Musa Djaha. Beliau merupakan seorang pedagang bensin. Beliau juga mengajarkan ngaji kepada anak-anak di sekitar rumahnya yang ada di Kalabahi, Alor, NTT.  Bukan hanya anak-anak, Musa juga mengajarkan mengaji kepada orang dewasa.

Berapa pendapatan yang didapatkannya dari mengajar ngaji tersebut? Jawabannya adalah tidak ada. Beliau mengajar mengaji secara sukarela. Anak-anak dan orang dewasa yang mengaji kepadanya tidak dipungut biaya. Untuk makan sehari-hari, Musa mengandalkan pendapatannya dari berjualan bensin di depan rumah.

Kios bensinnya sangat kecil. Hanya para pengendara yang kehabisan bensin atau sedang dalam kondisi darurat saja yang berhenti di kios bensinnya. Hal ini juga dikarenakan orang-orang lebih memilih kios bensin yang modern dan meninggalkan kios bensin eceran, termasuk kios bensin milik Ustadz Musa. Akibatnya, penghasilan yang didapatkannya dari menjual bensin ini tidaklah seberapa.

Pria paruh baya ini masih harus menghidupi istri dan seorang anaknya. Secara fisik, Musa bukanlah orang yang sempurna. Musa menderita polio sejak usia 6 tahun sehingga menyebabkan kakinya cacat. Sejak saat itu pula, beliau harus menggunakan tongkat penyangga agar bisa melakukan kegiatan sehari-hari.

Musa tidak berasal dari keluarga berada. Kehidupan keluarganya pas-pasan. Namun beliau memiliki semangat yang tinggi untuk berbagi dengan sesamanya. Untuk itulah, beliau masih mau mengajarkan mengaji kepada anak-anak dan orang dewasa di sekitar rumahnya meskipun tidak mendapatkan penghasilan dari pekerjaan tersebut. Menurutnya, dengan mengajarkan mengaji dia tidak hanya berbagi kepada sesama, namun juga bisa digunakan sebagai bekal di akhirat kelak.

Penghasilannya hanya bertumpu pada usaha bensin kecil-kecilannya. Dari kios bensin ini, Musa bisa menghidupi keluarganya dan menyekolahkan anaknya hingga tingkat SMP. Istrinya mendukung usaha kecil-kecilannya ini. Secara bergantian, Musa dan istrinya mengisi botol-botol dengan bensin yang akan dijualnya.

Untungnya beberapa waktu lalu, Ustadz Musa mendapatkan donasi berupa mesin bensin. Donasi ini memudahkannya dalam mengelola kios bensinnya. Beliau juga mendapat donasi untuk memeriksakan kondisi kesehatannya.

Kita juga bisa berkontribusi untuk membantu sosok-sosok inspiratif seperti Ustadz Musa. Kita tidak harus melakukan hal besar untuk membantu Ustadz Musa. #AwaliDenganKebaikan kecil, kita sudah bisa membantu orang lain yang membutuhkan.

Untuk memulainya, kita bisa memulai kebaikan dari diri sendiri dan keluarga. Salah satunya dengan memberikan perlindungan terbaik melalui Produk Asuransi Syariah dari Allianz. Produk asuransi Allianz ini bukan produk asuransi biasa karena dengan produk ini, kita bisa menebarkan dua manfaat kebaikan sekaligus.

Kebaikan yang pertama adalah kebaikan perlindungan untuk kita sekeluarga dari risiko kerugian finansial. Kebaikan yang kedua adalah kebaikan yang akan disebarkan ke lebih banyak orang melalui program sosial yang dijalankan oleh perusahaan Asuransi Syariah Indonesia ini. Nantinya, sebagian dana asuransi yang kita bayarkan akan digunakan untuk membiayai program ini. Kita juga bisa berkontribusi lebih dengan memanfaatkan fitur wakaf yang disediakan.

Jangan biarkan orang-orang inspiratif seperti Ustadz Musa berjuang sendirian dalam menebar kebaikan. Kita juga bisa meniru semangat Ustadz Musa dengan mulai menebar kebaikan untuk diri sendiri dan keluarga tercinta sebelum melakukan hal yang lebih besar untuk orang lain.

No comments:

Post a Comment