Thursday, January 25, 2018

Mengenal Penyakit Difteri yang Mewabah di Indonesia

GoDOk
Go-Dok
Akhir-akhir ini di Indonesia banyak yang terjangkiti penyakit difteri. Penyakit ini telah mewabah di berbagai wilayah, kurang lebih 20 provinsi di Indonesia. Bahkahn, di antara 622 kasus difteri yang ditemukan oleh Kementerian Kesehatan, 32 diantaranya meninggal dunia. Mengerikan, bukan? Untuk meminimalisir penyakit ini menyerang Anda dan keluarga, terlebihh dahulu Anda harus mengenali penyakit ini lebih jauh seperti gejala, penyebab hingga pengobatannya. Untuk itu, kenali penyakit difteri mulai dari gejala, pencegahan dan pengobatan lewat penjelasan ini!

Penyakit Difteri Adalah


Difteri adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh kuman Corynebacterium. Ada dua jenis penyakit difteri yang secara fatal dapat tertular. Yaitu: 

  • Difteri dalam Pernapasan (respiratory) yang berefek di area tenggorokan, hidung dan amandel.
  • Difteria pada kulit (cutaneous) yang berefek di area kulit.
Umumnya, difteri akan tersebar melalui kontak langsung dengan penderita pembawa kuman Corynebacterium, Kemudian, akan mengontaminasi udara dengan keluarnya air ludah melalui batuk, bersin atau saat berbicara. Akibat dari terhirupnya kuman tersebut kemudian membentuk lapisan khas pada selaput lendir saluran pernapasan yang juga menyebabkan kerusakan otot-otot jantung, ginjal dan jaringan saraf. 

Yang harus Anda waspadai ternyata, kuman difteri ini dapat menimbulkan kematian mendadak serta kelumpuhan saraf-saraf akibat zat racun atau eksotoksin yang tersebar pada tubuh. Jadi, selalu perhatikan kesehatan Anda setiap saat untuk memastikan kuman tersebut tidak bersarang di tubuh Anda. 

Gejala yang akan penderita rasakan

Gejala difteri akan berlangsung selama 2 sampai 4 hari setelah kontak langsung dengan kuman Corynebacterium. Dengan gejala-gejala yang paling sering muncul pada anak usia dini, seperti: 

  • sakit menelan
  • Kesulitan bernapas
  • Demam
  • Suara serak,
  • Napas berbunyi (stridor)
  • Perbesaran kelenjar getah bening
  • Pilek atau beringus
  • pembengkakan atap mulut (palate).
Kemudian, gejala difteri yang menular pada kulit, biasanya lebih ringan dan mungkin terlihat munculnya bintik-bintik kuning atau luka pada kulit. Nah, sebaiknya jika Anda atau keluarga sudah menunjukan gejala yang disebutkan di atas segeralah periksakan kondisi kesehatan Anda pada dokter. 

Pencegahan yang bisa Anda praktikan

Kementerian Kesehatan, menekankan masyarakat untuk melakukan imunisasi (DTP) sebagai langkah awal yang harus dilakukan kepada anak usia dini. Vaksin tersebut meliputi difteri, tetanus dan pertusis atau batuk rejan. Pemberian vaksin DTP termasuk wajib bagi anak-anak di Indonesia selama 5 kali yaitu, suntikan ke-1 di umur 2 bulan, suntikan ke-2 di umur 3 bulan, suntikan ke-3 di umur 4 bulan, suntikan ke-4 di umur 1,5 tahun dan suntikan ke-5 di umur 5 tahun. Jadi, yuk, vaksin difteri mulai sekarang!

Pengobatan penyakit difteri dengan

Pengobatan penyakit difteri akan disesuaikan dengan gejala yang muncul, kondisi umum kesehatan dan umur. Namun, apabila Anda atau keluarga sudah menunjukan gejala penyakit difteri segera periksakan ke dokter sehingga dapat langsung diberikan penanganan dan agar tidak menular kepada anggota keluarga yang lainnya. 

Setelah itu, perawatan yang dilakukan dapat Anda lakukan dengan istirahat yang baik, mengonsumsi makanan bergizi dan obat antibiotik yang diberikan di awal sebelum tersebarnya racun dalam tubuh anak. Antitoksin juga dapat diberikan dengan antibiotik jika diperlukan.

Itu dia seputar penyakit difteri dari mulai pengenalan, gejala, pencegahan hingga pengobatannya yang harus Anda ketahui. 
Sumber:
  1. http://sains.kompas.com/read/2017/12/07/080900823/kemenkes--difteri-tahun-ini-luar-biasa
  2. http://www.alodokter.com/difteri
  3. https://www.ayahbunda.co.id/bayi-gizi-kesehatan/agar-bayi-terhindar-difteri
  4. http://www.who.int/topics/diphtheria/en/

No comments:

Post a Comment